Dari Proposal ke Aksi Nyata: Kolaborasi BEM UKTS dan JAKOMKRIS PBI Wujudkan Gerakan Ketangguhan Iklim Berbasis Komunitas

Image

Surakarta, Februari 2026 — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Kristen Teknologi Solo (BEM UKTS) menyelenggarakan rangkaian kegiatan Solo Eco Barter dan Diskusi Lingkungan Hidup sebagai bentuk implementasi proposal program yang berhasil menjadi pemenang dalam lomba proposal yang diselenggarakan oleh Jejaring Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia (JAKOMKRIS PBI).

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen mahasiswa dalam memperkuat ketangguhan komunitas terhadap perubahan iklim dan risiko bencana di Surakarta, sekaligus memperlihatkan model kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda.

Latar Belakang dan Implementasi Proposal

Perubahan iklim semakin berdampak nyata di wilayah perkotaan, termasuk Surakarta. Intensitas hujan yang meningkat, persoalan sampah, penurunan kualitas lingkungan, serta risiko banjir dan genangan menjadi tantangan yang memerlukan pendekatan terintegrasi.

Menjawab tantangan tersebut, BEM UKTS menyusun proposal bertema ketangguhan komunitas berbasis kolaborasi. Proposal tersebut terpilih sebagai pemenang dalam kompetisi yang diinisiasi JAKOMKRIS PBI dan kemudian diimplementasikan melalui dua agenda utama:

  1. Kampanye Publik Solo Eco Barter (15 Februari 2026) di area Car Free Day Jalan Slamet Riyadi.
  2. Diskusi Lingkungan Hidup (19 Februari 2026) di aula kelurahan Setabelan, Banjarsari.

Rangkaian kegiatan ini dirancang sebagai ruang edukasi publik sekaligus forum strategis membangun sinergi antar pemangku kepentingan.

Kampanye Publik: Edukasi dan Aksi Nyata

Kampanye Solo Eco Barter dilaksanakan secara non-komersial dan edukatif melalui konsep pertukaran sampah anorganik dengan barang bernilai guna. Pendekatan ini mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah sebagai bagian dari adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.

Kegiatan ini juga memperlihatkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan perilaku di tingkat komunitas.

Diskusi Lingkungan Hidup: Penguatan Perspektif dan Kolaborasi

Diskusi mengangkat tema “Ketangguhan Komunitas dalam Adaptasi Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana di Kota Surakarta.” Kegiatan ini menghadirkan peserta dari kalangan mahasiswa, komunitas pemuda, relawan lingkungan, dan organisasi masyarakat sipil.

Narasumber yang terlibat antara lain:

  • Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta
    Menyampaikan kondisi lingkungan hidup terkini dan pentingnya partisipasi masyarakat dalam adaptasi iklim.
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surakarta
    Memaparkan karakteristik risiko bencana perkotaan dan pendekatan Pengurangan Risiko Bencana berbasis komunitas.
  • Jejaring Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia
    Diwakili oleh Ageng Prasetya selaku Fasilitator Gereja Tangguh Bencana (GTB), yang menyampaikan materi bertajuk “Membangun Gerakan Komunitas untuk Ketangguhan Iklim dan Lingkungan.”

Dalam pemaparannya, Pdt. Ageng Prasetya menekankan beberapa poin strategis, antara lain:

  • Pentingnya membangun kesadaran kolektif melalui pengorganisasian komunitas yang berbasis nilai solidaritas dan kepedulian sosial.
  • Ketangguhan tidak hanya berbicara tentang kesiapsiagaan teknis, tetapi juga relasi sosial, kepercayaan, dan jejaring antar warga.
  • Strategi aksi kolektif berbasis komunitas sebagai respons terhadap krisis lingkungan dan bencana.
  • Peran komunikasi publik dalam membentuk perubahan perilaku yang berkelanjutan.
  • Pembelajaran dari praktik pendampingan komunitas yang menunjukkan bahwa ketangguhan tumbuh dari proses partisipatif dan kolaboratif.

Dukungan dan Peluang Kolaborasi

Dalam kesempatan tersebut, JAKOMKRIS PBI juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung inisiatif-inisiatif kolaboratif, khususnya yang melibatkan mahasiswa dan kaum muda. JAKOMKRIS PBI membuka peluang kolaborasi kepada berbagai lembaga, komunitas, dan institusi pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.

Dukungan ini mencerminkan keyakinan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam membangun kota yang tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika lingkungan.

Penguatan Jejaring dan Tindak Lanjut

Kegiatan ini juga menghasilkan inisiatif pembentukan Jejaring Mahasiswa Kristen untuk Ketangguhan Iklim dan Bencana (JEMAHKATANA) sebagai wadah koordinasi dan penguatan aksi mahasiswa ke depan. Sebagai simbol komitmen bersama, kegiatan ditutup dengan aksi penanaman pohon.

Penutup

Rangkaian Solo Eco Barter dan Diskusi Lingkungan Hidup menjadi bukti bahwa proposal mahasiswa tidak berhenti pada tataran gagasan, tetapi dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata. Sinergi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan mahasiswa menunjukkan bahwa ketangguhan kota dibangun melalui kerja bersama.

Melalui implementasi proposal ini, BEM UKTS dan JAKOMKRIS PBI menegaskan pentingnya ruang kolaboratif yang berkelanjutan dalam membangun Surakarta sebagai kota yang tangguh, adaptif, dan berdaya menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko bencana.

 

Penulis: Marsen Sobang
Tanggal: 20 Februari 2026