MDS Dampingi Penyintas Banjir dan Bangun Hunian Aman di Tapanuli Tengah

Image

Banjir yang melanda wilayah Tapanuli Tengah menyisakan duka dan kerugian bagi ratusan keluarga. Di tengah upaya pemulihan, berbagai lembaga hadir untuk membersamai para penyintas. Salah satu yang aktif adalah Lembaga Muria Damai Sentosa (MDS), lembaga Kristen yang menekankan pendampingan berkelanjutan pascabencana.

Sejak masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan, MDS tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, tetapi juga melakukan pendampingan menyeluruh, dengan memahami bahwa dampak bencana meliputi kerusakan fisik sekaligus trauma psikologis dan sosial.

“Pemulihan tidak hanya soal membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga membangun kembali harapan dan ketahanan masyarakat,” kata Pdt. Paulus Hartono, Direktur MDS.

Pendampingan yang Terstruktur dan Kontekstual

Pendampingan MDS dilakukan secara bertahap. Pada fase awal, tim melakukan asesmen kebutuhan, memastikan distribusi bantuan tepat sasaran, serta membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat.

Memasuki fase pemulihan, fokus beralih pada penguatan kapasitas penyintas dan pembangunan hunian aman. MDS mendampingi seluruh proses pembangunan rumah, mulai dari identifikasi penerima manfaat, koordinasi teknis, hingga memastikan proses berjalan transparan dan partisipatif.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberlanjutan

Dalam pelaksanaannya, MDS menekankan kolaborasi dengan berbagai pihak. Sinergi dibangun dengan pemerintah daerah, gereja-gereja lokal, komunitas masyarakat, serta jejaring kemanusiaan lainnya.

Kolaborasi memungkinkan respons lebih terarah dan efektif, meminimalkan tumpang tindih bantuan, serta memperkuat peran gereja sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat terdampak.

“Kami tidak berjalan sendiri. Setiap kolaborasi membantu kami lebih fokus dan memastikan program berkelanjutan,” jelas Pdt. Paulus Hartono.

Melalui kerja sama ini, MDS dapat menjangkau berbagai kebutuhan, mulai dari bantuan material, pendampingan psikososial, hingga penguatan ekonomi keluarga terdampak. Pendekatan ini memastikan masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga belajar mandiri dan pulih secara menyeluruh.

 

Pembangunan Hunian: Menguatkan Ketangguhan Masyarakat

Salah satu fokus utama MDS saat ini adalah pendampingan pembangunan hunian bagi keluarga terdampak. Selain memastikan kualitas bangunan yang aman, MDS juga mendorong partisipasi aktif warga, sehingga mereka memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap hunian yang dibangun.

Proses pembangunan menjadi bagian dari edukasi kebencanaan, membantu masyarakat memahami risiko dan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi bencana di masa depan.

Dalam proyek hunian di Tapanuli Tengah, MDS memprioritaskan rumah panggung di atas tanah eksisting, menghindari relokasi yang bisa menimbulkan masalah tambahan. Struktur bangunan dirancang tahan banjir, dengan pondasi tiang yang kuat, material kayu lokal dan durian tua, dinding GRC, dan atap seng gelombang.

Setiap rumah panggung yang dibangun MDS memiliki:

  • 12 tiang pondasi tipe “cakar ayam” dengan besi 10 cm dan kedalaman hampir 1 meter,
  • Lantai yang diikat dengan kayu ukuran 8x10 cm agar lebih kuat dan stabil,
  • 2 kamar tidur untuk pasangan suami-istri dan anak-anak,
  • 1 ruang serbaguna yang bisa difungsikan sebagai dapur atau ruang keluarga,
  • Teras rumah untuk kegiatan sehari-hari,
  • Dinding GRC se-tebal 5 mm dan atap seng gelombang, sehingga rumah aman dari hujan deras dan angin kencang.

MDS juga memaksimalkan material kayu yang ada di lokasi, termasuk kayu gelondongan yang terbawa banjir dan masih dapat dipakai atau kayu durian tua yang sudah tidak lagi produktif. Hal ini membuat proses pembangunan lebih ramah sumber daya dan meminimalkan biaya tambahan.

Desain hunian dibuat sesuai tradisi lokal dan kondisi geografis. Rumah panggung tinggi 1 meter dari tanah, sehingga saat banjir susulan dengan ketinggian sekitar 1 meter, warga tetap dapat tinggal di rumah dengan aman.

 

Penulis: Marsen Sobang
Tanggal: 06 Maret 2026

Dengan pendekatan ini, MDS tidak hanya membangun rumah, tetapi juga mendorong rasa kepemilikan, keamanan, dan ketahanan jangka panjang bagi warga terdampak banjir di Tapanuli Tengah.